May 30th, 2009
Punya pacar berarti punya seseorang yang spesial. Dia ada untuk kita saat senang dan susah. Untuknya, saya perlakukan istimewa, dan untuknya saya berikan kasih sayang. Punya pacar bikin saya sumringah, senyum terus setiap hari.

Senyum Sumringah

May 24th, 2009
“Di dadaku kubawa rakyat Sumeria dan Akkadia; mereka berkembang di bawah perlindunganku; aku selalu memerintah mereka dalam kedamaian; aku menaungi mereka dengan kebijaksanaanku. Agar yang kuat tidak menindas yang lemah; agar para yatim piatu dan para janda mendapatkan keadilan; di Babilonia, kota di mana Anum dan Elil menengadahkan kepalanya; di Esagila, kuil yang dasarnya kokoh kuat seperti langit dan bumi; aku menulis kata-kataku yang berharga ini pada monumenku; dan di hadapan patungku, sebagai raja keadilan, aku menetapkannya untuk mengatur hukum di negeri ini; untuk menentukan peraturan bagi negeri ini; untuk memberi keadilan bagi yang tertindas.”
Hammurabi
Adalah Hammurabi yang membuat 282 pasal dalam Hammurabi Codex sebagai hukum di dinastinya, dinasti yang hampir sama besar dengan Kerajaan Mesir Kuno, dinasti yang telah menaklukkan Akkadia, Elam, Larsa, Mari dan Summeria, yaitu dinasti Babilonia. Dari tulisan di atas, kita dapat melihat ada sebutan raja keadilan. Disebutkan bahwa Hammurabi menjadi terkenal karena Codex tersebut. Namun bila melihat relief Hammurabi (bisa ditemukan di Museum Louvre, Paris, Perancis), akan terlihat gambar seperti dibawah ini.

Gambar di atas menceritakan bahwa Hammurabi sedang menerima hukum dari Dewa Shamash yang merupakan simbol dari matahari dan juga penjamin keadilan. Walaupun Hammurabi seorang raja, ia tetap manusia biasa. Ia tidak membuat keadilan karena dirinya, ia mendapatkan keadilan dari Dewa. Dewa adalah Tuhan, dan Tuhanlah yang paling adil terhadap manusia. Manusia tidak akan pernah bisa adil, bahkan untuk seorang raja sekalipun.

May 16th, 2009
Ibu saya pernah bilang bahwa siapapun yang pernah tinggal di Jakarta, tidak akan mau pindah ke luar Jakarta. Anggapan ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang yang pernah tinggal di Jakarta. Tapi akhirnya saya pun merasakannya sendiri meskipun saya hanya menjadi mahasiswa. Saya sampai heran, apa gerangan yang membuat ibu kota negara Indonesia ini bisa membuat penduduknya betah untuk tetap tinggal?

Jakarta, menurut saya adalah sebuah kota yang sangat besar. Dengan luas wilayah sebesar 661,52 km², waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya bukan lagi dengan hitungan menit melainkan dengan perkiraan jam. Kota ini adalah simbol dari kemajemukan Indonesia, ketika kita bisa menemukan masyarakat heterogen yang sangat individualis. Dipikir-pikir akankah kondisi demikian (plural) menjadi pondasi yang kuat terhadap kota ini? Dikarenakan manusia yang telah melanggar ketentuan alamiah yakni manusia sebagai mahluk sosial, manusia Jakarta menurut saya tidak lagi peduli satu sama lainnya.
Kota yang besar ini akhirnya mampu diisi dengan segala macam-macamnya entah apapun itu juga. Layaknya toko serba ada (toserba), Jakarta diisi apa saja yang penting ada. Mau makan? Jakarta punya restoran sampai jajanan PKL yang kerjaannya main kucing-kucingan sama Pol PP. Mau nonton? Jakarta punya bioskop dengan varian harga atau bila mau yang lebih murah lagi, bisa beli film format DVD bajakan. Mau pintar? Silahkan ke sekolah-sekolah gratis namun buku tidak gratis, dan kalau bisa ke jenjang yang lebih tinggi silahkan ke universitas-universitas (yang katanya) unggulan. Pemerintahan tersedia dari tingkat RT sampai tingkat Istana Negara. Budaya Jakarta pun telah tercampur dengan segala macam budaya baik domestik Indonesia maupun luar negeri. Kaum eksektif muda menjadi wajah baru di kota ini, melihatnya dengan mobil-mobil baru (pasti kredit), pakaian mahal, dan gaya hidupnya yang hedonis menjadikan kelas tersendiri dalam struktur masyarakat Jakarta.
‘Katanya’ Jakarta juga mampu membuat bahagia duniawi, sehingga orang berbondong-bondong datang ke Jakarta, berharap yang awalnya hanya punya celengan kodok bisa berubah menjadi buku tabungan bank. ‘Katanya’ ini lah yang membuat saya justru sebenarnya kesal, tapi merasa ada bagusnya juga dari ‘katanya’ ini. Yang bilang katanya Jakarta mampu merubah hidup kita pastilah orang yang telah berhasil, dan sebenarnya tidak hanya di Jakarta saja, di semua kota atau bisa saja di desa-desa ataupun kampung kita bisa berhasil. Namun masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat instan, punya niat saja boro-boro, usaha aja ngga pernah. Inilah akhirnya membuat Jakarta unik dari ‘katanya’ ini, begitu banyak cerita yang terjadi dikarenakan masyarkatnya tumpah ruah di Jakarta mencari kehidupan, ditambah lagi semua hal-hal di atas dimasukkan di kota ini.
Bila Jakarta mampu membuat testimoni, saya yakin ia akan mengeluh dengan konsekuensi yang harus dijalaninya. Fungsi yang diembannya sebagai pusat pemerintahan dan lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, menimbulkan konsekuensi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan jasa, pusat kegiatan sosial dan budaya dengan berbagai sarana terbaik di Indonesia dalam bidang pendidikan, budaya, kesehatan, dan olahraga. Maka dari itu, Jakarta mempunyai gelar Daerah Khusus Ibukota atau DKI karena keistimewaan tersebut.
Akhirnya saya pun mengerti apa yang dimaksud oleh ibu saya. Dengan apapun yang ada di Jakarta ini, telah mampu menjadi magnet bagi masyarakatnya sendiri. Jakarta memang dibuat khusus untuk melayani segalanya. Kriminalitas, kemacetan, kesenjangan sosial, banjir, dan lain-lainnya telah dianggap unsur-unsur yang secara tidak langsung wajib hadir dalam rutinitas kita di Jakarta ini. Di umur 482 tahun nanti di bulan Juni, Jakarta selalu diharapkan menjadi kota yang selalu menawarkan kesempatan untuk bahagia. Saya sendiri pun pernah merasakan bahagia di Jakarta ini, tapi tidak akan seru kalau belum kena pahitnya. Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda kerasan dengan lika-liku Jakarta ini?
