Gue di Jakarta
Ibu saya pernah bilang bahwa siapapun yang pernah tinggal di Jakarta, tidak akan mau pindah ke luar Jakarta. Anggapan ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang yang pernah tinggal di Jakarta. Tapi akhirnya saya pun merasakannya sendiri meskipun saya hanya menjadi mahasiswa. Saya sampai heran, apa gerangan yang membuat ibu kota negara Indonesia ini bisa membuat penduduknya betah untuk tetap tinggal?
Jakarta, menurut saya adalah sebuah kota yang sangat besar. Dengan luas wilayah sebesar 661,52 km², waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya bukan lagi dengan hitungan menit melainkan dengan perkiraan jam. Kota ini adalah simbol dari kemajemukan Indonesia, ketika kita bisa menemukan masyarakat heterogen yang sangat individualis. Dipikir-pikir akankah kondisi demikian (plural) menjadi pondasi yang kuat terhadap kota ini? Dikarenakan manusia yang telah melanggar ketentuan alamiah yakni manusia sebagai mahluk sosial, manusia Jakarta menurut saya tidak lagi peduli satu sama lainnya.
Kota yang besar ini akhirnya mampu diisi dengan segala macam-macamnya entah apapun itu juga. Layaknya toko serba ada (toserba), Jakarta diisi apa saja yang penting ada. Mau makan? Jakarta punya restoran sampai jajanan PKL yang kerjaannya main kucing-kucingan sama Pol PP. Mau nonton? Jakarta punya bioskop dengan varian harga atau bila mau yang lebih murah lagi, bisa beli film format DVD bajakan. Mau pintar? Silahkan ke sekolah-sekolah gratis namun buku tidak gratis, dan kalau bisa ke jenjang yang lebih tinggi silahkan ke universitas-universitas (yang katanya) unggulan. Pemerintahan tersedia dari tingkat RT sampai tingkat Istana Negara. Budaya Jakarta pun telah tercampur dengan segala macam budaya baik domestik Indonesia maupun luar negeri. Kaum eksektif muda menjadi wajah baru di kota ini, melihatnya dengan mobil-mobil baru (pasti kredit), pakaian mahal, dan gaya hidupnya yang hedonis menjadikan kelas tersendiri dalam struktur masyarakat Jakarta.
‘Katanya’ Jakarta juga mampu membuat bahagia duniawi, sehingga orang berbondong-bondong datang ke Jakarta, berharap yang awalnya hanya punya celengan kodok bisa berubah menjadi buku tabungan bank. ‘Katanya’ ini lah yang membuat saya justru sebenarnya kesal, tapi merasa ada bagusnya juga dari ‘katanya’ ini. Yang bilang katanya Jakarta mampu merubah hidup kita pastilah orang yang telah berhasil, dan sebenarnya tidak hanya di Jakarta saja, di semua kota atau bisa saja di desa-desa ataupun kampung kita bisa berhasil. Namun masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat instan, punya niat saja boro-boro, usaha aja ngga pernah. Inilah akhirnya membuat Jakarta unik dari ‘katanya’ ini, begitu banyak cerita yang terjadi dikarenakan masyarkatnya tumpah ruah di Jakarta mencari kehidupan, ditambah lagi semua hal-hal di atas dimasukkan di kota ini.
Bila Jakarta mampu membuat testimoni, saya yakin ia akan mengeluh dengan konsekuensi yang harus dijalaninya. Fungsi yang diembannya sebagai pusat pemerintahan dan lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, menimbulkan konsekuensi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan jasa, pusat kegiatan sosial dan budaya dengan berbagai sarana terbaik di Indonesia dalam bidang pendidikan, budaya, kesehatan, dan olahraga. Maka dari itu, Jakarta mempunyai gelar Daerah Khusus Ibukota atau DKI karena keistimewaan tersebut.
Akhirnya saya pun mengerti apa yang dimaksud oleh ibu saya. Dengan apapun yang ada di Jakarta ini, telah mampu menjadi magnet bagi masyarakatnya sendiri. Jakarta memang dibuat khusus untuk melayani segalanya. Kriminalitas, kemacetan, kesenjangan sosial, banjir, dan lain-lainnya telah dianggap unsur-unsur yang secara tidak langsung wajib hadir dalam rutinitas kita di Jakarta ini. Di umur 482 tahun nanti di bulan Juni, Jakarta selalu diharapkan menjadi kota yang selalu menawarkan kesempatan untuk bahagia. Saya sendiri pun pernah merasakan bahagia di Jakarta ini, tapi tidak akan seru kalau belum kena pahitnya. Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda kerasan dengan lika-liku Jakarta ini?
![]()






oom budi.
saya tidak tinggal di jakarta..
hennah? gimana mau kerasan lawong nginjek kaki disana meski cuman sedetik ae belom pernah hehehe.
sukses tidak harus didapat di jakarta kok. kalao kita mau berusaha sekuat tenaga, kita juga bisa sukses meski di kampung ploso, begitu kan?
Gw betah di Bogor kok Bud setelah 18 tahun di Jakarta.
aaah.. kalo di jakarta, gue mesti ke mall dulu buat liat cewe cantik.. itupun gak tiap hari..
kalo di bandung,, naek angkot pun udah bisa dipastikan bakalan ketemu cewe cantik.. hampir tiap hari pula..
hehehehe..
Di Jakarta, dari sajadah sampai haram jadah ada…
Apalagi hampir 70% perputaran uang di seluruh Indonesia ada di Jakarta.
bud! masuk kapitalis yak ini
ibukota dipindahin aja,, jagnan di jakarta.. jakarta pusat bisnis aja ahauahua
“Kriminalitas, kemacetan, kesenjangan sosial, banjir, dan lain-lainnya telah dianggap unsur-unsur yang secara tidak langsung wajib hadir dalam rutinitas kita di Jakarta ini”
ya..klo ga ada itu semua berarti bukan kota jakarta namanya..
gimana klo Ibukota Indonesia di tambah aja yah… biyar Jakarta ga padat kaya gini
Jakarta tu jenis makanan apa yah? Ahehehe.. D jakarta apa aja ada c, ampe yg harusnya ga ada jg d ada2in atas nama menyambung hidup..
Kasihan daerah lain, diperes abis2an buat nyokong berdiri jakarta… ckckck
Eneg lama2, hidup makin susah euy