July 29th, 2009
Apa yang lebih menakutkan dari ledakan bom bunuh diri teroris kemarin? Yang bisa bikin teriak ketakutan? Yang bisa bikin takut ke kamar mandi sendirian? Yang lebih bikin takut adalah hantu. Mahluk gaib yang diyakini berparas menyeramkan, melayang-layang, dan yang pasti dia ada di sekitar kita.

Saking tenarnya si hantu, dia sampai dibuat film. Oh, hantu di Indonesia terkenal banyaknya. Ada pocong, kuntilanak, tuyul, gunderewo, jalangkung, dll. Saking banyaknya, mereka seharusnya berterima kasih pada manusia, karena banyak berarti susah dikenal seperti pemilihan calon legislatif Mei lalu. Melalui film yang dibuat manusia, akhirnya pocong, kuntilanak, dan beberapa hantu Indonesia lainnya menjadi populer.
Yang ingin saya bahas disini adalah, awalnya saya takut sama mereka. Tapi ibarat tinggal di lingkungan baru dengan tetangga baru, dan setelah lama kita bisa akrab dengan mereka, hantu Indonesia tidak lagi memancing insting saya untuk berteriak kala menonton mereka di layar lebar atau kaca. Hantu-hantu kawakan itu sudah terlalu sering dimunculkan, dengan sentuhan sinetron televisi abal-abal, saya jadi tambah malas nonton hantu-hantu yang dibuat varian jenis ceritanya.
Mungkin yang saya ingin sarankan untuk para pembuat cerita adalah, coba berhenti untuk genre horor. Coba genre baru, dan Indonesia punya banyak cerita yang bisa diekspose namun harus dieksplore terlebih dahulu. Indonesia ga ada kurangnya kok untuk inspirasi. Ditengah nuansa politik Indonesia yang bikin jenuh, kita butuh suguhan hiburan yang baru. Namun bukan suguhan infotainment ABG zaman sekarang.

July 16th, 2009
Adaptasi biasa dilakukan oleh mahluk hidup untuk bertahan di lingkungan barunya. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan bukanlah hal yang mudah, bisa butuh waktu yang lama untuk bisa terbiasa dengan hal-hal baru. Hukum alam mengatakan siapa yang kuat, dia yang menang adalah hukum yang liar sebenarnya. Namun apapun untuk tujuan, harus bisa dilakukan.
Melihat perkembangan sekarang-dan kebetulan teringat lagunya Saykoji yang judulnya Online-informasi merupakan hal mutlak yang harus kita dapatkan dalam proses adaptasi. Untuk bisa tinggal di Indonesia, warga negara asing harus paham dengan hukum positif dan hukum tak tertulis di negeri kita. Dengan menguasai beragam informasi, dalam hukum alam kita akan berada di posisi yang kuat.
Nah, bagaimana kalau hukum alam harus dirasakan oleh media cetak? Internet datang dan merambah seluruh lapisan masyarakat secara cepat. Orang terbiasa pencet ini baca itu bukan lagi membuka helai-demi helai kertas media cetak. Porsi iklan kian sedikit di koran, majalah, tabloid, dan sebagainya, dan ternyata muncul di portal-portal berita. Animo masyarakat untuk santai semakin terpenuhi karena adanya internet, akhirnya media cetak harus bangkrut dan mengaku kalah.
Berhenti terlalu serius, saya berlangganan koran Kompas seharga 50 ribu sebulan-harga spesial untuk mahasiswa tentunya. Tapi kuliah saya di semester akhir ini agak padat, pergi pagi pulang pagi sehingga aktivitas saya banyak di luar rumah. Waktu untuk membaca buku berkurang drastis, apalagi koran. Nah, jadi ini lah yang saya maksudkan. Ketika koran tidak lagi saya sentuh, dan saya termasuk orang lain di dunia ini yang punya banyak kegiatan di luar rumah, saya menjadi lari ke internet, membaca beragam berita di varian portal berita.

Kompas isi hari ini

Portal Kompas

e-Paper, benar-benar tampilan cetak
Sebagai contoh harian Kompas, media ini punya media cetak yang selalu datang ke rumah saya tiap jam setengah lima pagi. Media ini juga buka cabang di kompas.com; cetak.kompas.com; dan juga epaper.kompas.com. Akankah media besar seperti kompas juga harus menjadi kuat dengan cara pindah haluan ke internet? Siapa tahu ya, tapi tidak hanya kompas saja, banyak media lain yang bisa dicari di Google seperti Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Tempo, dan lain sebagainya. Jadi pertanyaan besarnya adalah, apakah media cetak akan tetap menjadi kertas atau berubah menjadi digital?

July 9th, 2009
Menurut hasil quick count, SBY kembali akan menjadi Presiden Indonesia untuk lima tahun ke depan. Tampaknya krisis kepercayaan di negara ini mulai pulih, bukti bahwa rakyat Indonesia punya seseorang yang dipercaya untuk memimpin bangsa ini. Jika hasil quick count tersebut benar maka lima tahun dari sekarang yakni 2014, akan diadakan lagi pesta demokrasi dan tak mungkin lagi SBY. Semoga saat itu kita punya calon pemimpin yang lebih baik, dan yang paling penting adalah bisa dipercaya.

