E-News

Adaptasi biasa dilakukan oleh mahluk hidup untuk bertahan di lingkungan barunya. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan bukanlah hal yang mudah, bisa butuh waktu yang lama untuk bisa terbiasa dengan hal-hal baru. Hukum alam mengatakan siapa yang kuat, dia yang menang adalah hukum yang liar sebenarnya. Namun apapun untuk tujuan, harus bisa dilakukan.

Melihat perkembangan sekarang-dan kebetulan teringat lagunya Saykoji yang judulnya Online-informasi merupakan hal mutlak yang harus kita dapatkan dalam proses adaptasi. Untuk bisa tinggal di Indonesia, warga negara asing harus paham dengan hukum positif dan hukum tak tertulis di negeri kita. Dengan menguasai beragam informasi, dalam hukum alam kita akan berada di posisi yang kuat.

Nah, bagaimana kalau hukum alam harus dirasakan oleh media cetak? Internet datang dan merambah seluruh lapisan masyarakat secara cepat. Orang terbiasa pencet ini baca itu bukan lagi membuka helai-demi helai kertas media cetak. Porsi iklan kian sedikit di koran, majalah, tabloid, dan sebagainya, dan ternyata muncul di portal-portal berita. Animo masyarakat untuk santai semakin terpenuhi karena adanya internet, akhirnya media cetak harus bangkrut dan mengaku kalah.

Berhenti terlalu serius, saya berlangganan koran Kompas seharga 50 ribu sebulan-harga spesial untuk mahasiswa tentunya. Tapi kuliah saya di semester akhir ini agak padat, pergi pagi pulang pagi sehingga aktivitas saya banyak di luar rumah. Waktu untuk membaca buku berkurang drastis, apalagi koran. Nah, jadi ini lah yang saya maksudkan. Ketika koran tidak lagi saya sentuh, dan saya termasuk orang lain di dunia ini yang punya banyak kegiatan di luar rumah, saya menjadi lari ke internet, membaca beragam berita di varian portal berita.

media

Kompas isi hari ini

media

Portal Kompas

media

e-Paper, benar-benar tampilan cetak

Sebagai contoh harian Kompas, media ini punya media cetak yang selalu datang ke rumah saya tiap jam setengah lima pagi. Media ini juga buka cabang di kompas.com; cetak.kompas.com; dan juga epaper.kompas.com. Akankah media besar seperti kompas juga harus menjadi kuat dengan cara pindah haluan ke internet? Siapa tahu ya, tapi tidak hanya kompas saja, banyak media lain yang bisa dicari di Google seperti Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Tempo, dan lain sebagainya. Jadi pertanyaan besarnya adalah, apakah media cetak akan tetap menjadi kertas atau berubah menjadi digital?

logo

Tags: , , , ,

4 Responses to “E-News”

  1. Mahendrattunggadewa Says:

    Konon kabarnya kekuatiran terhadap internet dengan e-papernya awal2nya sempat juga menghantui media cetak di Amerika. Tapi akhirnya kekuatiran itu tidak terbukti karena media cetak tetap punya segmen market tersendiri.

    Selain itu media cetak punya kelebihan lain yang tidak dimiliki e-paper, yaitu memungkinkan untuk didokumentasikan dalam bentuk klipping. ini salah satu yang membuat media cetak tetap bisa bertahan.

  2. presy__L Says:

    eh,cara langganan kompas 50 ribu sebulan gimana si? gw masih aja langganan 70 ribu sebulan. tapi ya,semudah-mudahnya baca berita di internet, tetep aja berasa beda dengan cara baca langsung megang tuh koran.. sensasinya beda, baca di pagi hari sambil santai2 dengan duduk ngadep layar laptop/komputer baca berita walaupun layoutnya mirip dengan media cetak.. lebih enak megang langsung korannya, klo gw si.

  3. Achie Says:

    Mnurut gw c media cetak bkal ttp ada. G da media yg lbh baik dr media yg lainnya. Tgntung kbutuhan. Dan kalo dliat pbedaan mdia cetak dan digital pasti ada msg2 klbhn yg bs bwt media cetak ttp btahan, gt jg sbaliknya.

    Gw jg stuju apa kt presyl, lbh enak megang koran bs sambil guling2, koprol, handstand, and bs dsmpen bwt dbc brulang2. G ky lwt inet yg musti nyolokin dan pencet ini itu, blm lg sakit mata klo bc klamaan. Tp kdg kalo lg buru2 or g pnya wkt bnyk bwt bc koran bca lewat web ttt jg fine2 aja ko. :)

  4. itempoeti Says:

    WP belom di upgrade yak?

Leave a Reply