Study Abroad – #obsat
Senin, 10 Oktober 2011, Obrolan Langsat (Obsat) membahas tentang studi ke luar negeri. Wuih, denger kata luar negeri kayaknya keren ya, apalagi kalau dapat beasiswa, kayaknya udah ngerasa paling pinter aja gitu karena bisa dapat beasiswa.

Tapi apa yang dibahas di Obsat semalam, pandangannya tidak sama mengenai si Pintar yang pasti dapat beasiswa, atau katakanlah beasiswa ini “kesempatan”. Kesempatan tidak selalu didapatkan oleh yang prestasinya selangit, kalau memang tidak dapat ya tidak dapat toh. Makanya, para pembicara dan teman-teman yang hadir mengikuti rumpi-santai tentang studi di luar negeri ini sepakat bahwa kesempatan adalah untuk orang yang berusaha keras. Baik kesempatan ini sifatnya susah atau gampang, hehehe. Kalau susah ya berarti gratis (kan rebutan), sedangkan kalau gampang ya berarti atas support orang tua atau siapalah.
Banyak tips yang diberikan para pembicara mengenai flow untuk terbang ke luar negeri. Salah satu tips yang saya sukai adalah tips dari Yanuar Nugroho. Cobalah korespondensi dengan Guru di sana, by email tentunya ya. Ajukan calon karya ilmiah Anda, dan ketika ada respon dari beliau, maka Anda telah dibukakan pintu, selanjutnya di dalam rumah, terserah Anda, hehehe.
Cara tersebut menurut saya cukup ampuh ya, sepertinya senior saya di kampus pernah mencoba cara tersebut, berawal ngobrol-ngobrol via email, dan akhirnya sang Guru sepakat untuk menjadi pembimbingnya. Wah, bayangkan kalau saya yang dapat, sumringah seumur hidup tuh. Pembuktian dari usaha keras, seperti yang sudah dikatakan, bahwa usaha menentukan hasilnya.
***
Tantangan untuk belajar ke sana dengan tantangan belajar di sana menurut saya sama ya. Tantangannya yaitu, sama-sama susah. Susah untuk ke sana, karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, dan susah untuk kembali ke tanah air tanpa hasil memuaskan. Untuk kesana saja, kita sudah dihadapkan dengan formulir aplikasi yang membingungkan. Kendala pertama pasti sudah jelas, Bahasa Inggris. Harus diterjemahkan dulu? NO WAY!!! Kalau itu yang terucap, Anda gagal! Kalau Anda berusaha mengerjakannya, maka nasib Anda kemungkinan berubah, tapi usahakan supaya error free, itu saran dari Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara yang sudah kenyang dengan beasiswa.
Kalau tantangan di sana? Ya usaha keras kita untuk survive. Banyak yang akan kita pelajari, mulai dari budaya, bahasa, cara belajar, 4 cuaca, dan sebagainya. Pengalaman yang berarti kalau kita bisa pelajari hal-hal tersebut. Apalagi kalau tantangan yang biasa kita alami saat sekolah, bangun pagi, masih ngantuk, diterjang males, nah jadi deh dilema. Itu pengalaman Kristy Nelwan, alumnus UK, sekarang berprofesi menjadi konsultan dan dosen, yang menurutnya siapapun bisa mengalaminya, tapi ingat, tujuan kita ke luar negeri untuk belajar, bukan liburan.
Buat yang sudah menikah, ah kalau buat saya itu jangan dijadikan beban ya. Semangatnya jangan luntur kalau ada buah hati yang hadir menggerecoki kita saat sedang belajar, jadikan itu semangat, kita kan belajar untuk sukses, sukses kita sukses anak kita juga. Bahkan kalau Mirta Amalia bisa. Kenapa kita tidak? Mirta sekarang sedang lanjut S3 di UK, pernah juga loh menjadi asisten dosen di sana. Atau bisa juga ikuti caranya Roby Muhamad, kalau sudah menikah, tahan supaya jangan punya anak dulu. Kembali ke Indonesia, silahkan deh. Menurut Mas Roby nih, di US kita bisa langsung S3 loh kalau sudah S1, jadi tidak perlu S2 dulu, karena program S3 di sana sudah termasuk S2, asyik kan.
Di Obsat, didatangkan juga Ariono Hadipuro, promotion team dari NESO Indonesia, yang berbagi cerita tentang beasiswa. Sekarang beasiswa di Indonesia sudah meningkat jumlahnya. Maka dari itu bagi yang mimpi sekolah lagi, apalagi di luar negeri, sekarang jadi saat yang paling tepat untuk hunting. Menurutnya, kita juga harus membedakan juga tujuan dari beasiswa tersebut, makanya kita juga harus pintar-pintar cari informasi, layaknya wartawan, verivasi sangatlah penting demi beasiswa yang Anda incar.
Selain itu kita harus punya tujuan jelas saat kita kuliah lagi. Mau jadi apa sih kita setelah gelar Master atau Doktor sudah ditangan? Pertanyaan seputar motivas menjadi awal dilontarkan oleh sang moderator, Rachmat Anggara yang juga alumnus UK, karena apa sih kita sekolah di luar negeri? Akhirnya dijawab oleh para narasumber yang disebutkan di atas. Motivasi mereka tidak muluk-muluk kok, mereka akui untuk gengsi, untuk pendidikan yang lebih (bermutu), untuk pengalaman baru, atau karena bisa keluar negeri. Dari semuanya alasan tersebut, dapat beasiswa ataupun bukan, bisa terpenuhi karena mereka berusaha lebih dari yang juga berusaha. Demi apa yang mereka bilang sesuatu yang baru, mereka rela loh korbanin waktu, uang, tenaga, main, dan (bahkan) keluarga.
The Guest Stars
Selanjutnya, apa kita mau juga usaha seperti mereka?
Share This Post To :
Categorised as: Forum
Membuat saya semakin ingin cari beasiswa ke luar sana.