Ingin bisa Bahasa Inggris? Coba belajar di Kampung Inggris yang bertempat di desa Tulungrejo, kecamatan Pare, Kota Kediri. Kampung Inggris sudah menjadi andalan bagi orang-orang dari seluruh Indonesia yang ingin pintar berbahasa Inggris.
Kalau ingin tahu tentang sejarahnya, saya tidak akan memberitahu, karena saya akan menyarankan untuk datang saja ke Kampung Inggris dan cari tahu sendiri kenapa namanya Kampung Inggris. Tapi saya akan memberitahu bahwa yang paling terpenting adalah kita semua bisa belajar Bahasa Inggris dari ujung-ke-ujung Kampung Inggris di Pare ini (teman-teman yang sudah datang lebih akrab dengan kota Pare daripada kota Kediri).
Nah, memang kalau mau belajar Bahasa Inggris bisa otodidak, tapi sama halnya seperti Bahasa Indonesia, terkadang kita masih suka salah dalam menyusun kata perkata ataupun kalimat perkalimat, dan bahkan suka salah bicara.
Kampung Inggris menawarkan dua jenis program, yaitu Grammar dan Speaking. Jika ingin datang ke sini sebaiknya kita sudah tau mau belajar apa. Kebanyakan yang belajar Grammar adalah orang-orang yang ingin bisa mengerjakan TOEFL ataupun IELTS, ataupun suka dengan kegiatan tulis menulis. Kalau yang speaking, yaa memang orang-orang yang senang berbicara, dan memang terasa keren kan kalau bisa lancar ngomong Bahasa Inggrisnya?
Terus gimana dong kalau mau belajar dua-duanya? Oh, pastinya boleh. Tapi sebaiknya fokus dalam satu hal, kalau Grammar ya Speaking nanti dulu, begitu juga sebaliknya. Kalau datang ke sini, sebaiknya ambil dulu program Speaking, baru setelah bisa ngomong cas-cis-cus, kita ambil Grammar. Kenapa? Karena saat kita bicara kita tidak perlu struktur bahasa yang formal, lengkap, dan indah kan? Yang penting maknanya dimengerti, jadi kalau ambil Grammar setelah itu Speaking, nantinya pasti akan bingung untuk memilih kata-kata karena kita sudah tau struktur bahasa yang benar ketika belajar Grammar. Ada istilah “BERHENTI BELAJAR GRAMMAR”, itu adalah prinsip ketika belajar Speaking, tapi itu hanya sementara, sampai kita lancar saja, setelah itu lanjutkan belajar Grammarnya.
Kursusnya di mana? Wah, di sini ada banyak kursusan. Kita bisa memilih dari sekitar ratusan kursusan di sini. Kalau saya sebutkan di sini, terlalu banyak. Tapi saya bisa sebutkan beberapa sebagai bahan rekomendasi. Kalau mau belajar Grammar, bisa ke Mahesa Institute atau BEC yang sudah lama duluan ada di Pare. Ada Kresna dengan program khas dua mingguannya. Selain itu ada ELFAST dengan pola belajar yang cepat tapi sederhana. SMART, mendalam dan cermat. Masih banyak lagi kursusan lain yang mendalami Grammar, tapi seperti yang sudah saya bilang, ada banyak sekali kalau saya tulis di sini. Tapi yang di atas tadi adalah kursusan yang sudah punya nama, dan berkualitas.
Kalau mau belajar Speaking juga ada banyak pilihan, Daffodils, Mavelous, The Awareness, Global E, The Eminence, Webster, Access, dan lain-lain. Kalau untuk speaking, saya punya saran. Saran saya, jangan ambil kursusan Speaking tanpa camp, karena camp sangat membantu kita untuk melatih berbicara Bahasa Inggris. Camp adalah English Area yang mewajibkan penghuninya berbicara Bahasa Inggris 24 jam, jaminan bisa berbahasa Inggris jika ikut kursusan dengan camp pasti lebih dari 50%.
Kemudian, kalau mau datang ke Kampung Inggris, jangan cuma sebentar. Kampung Inggris memang terkenal dengan singkatnya. Tapi arti singkat itu bukan sebulan atau dua bulan. Butuh waktu minimal tiga bulan untuk memahami Grammar, dan sedikit mahir berbicara Bahasa Inggris. Jadi kalau datang ke sini hanya sebentar, sangat disayangkan, kecuali ada rencana untuk datang lagi.
Bagi yang bingung tentang Kampung Inggris, apa, bagaimana, kapan, di mana, siapa, dan kenapa, silahkan tanya-tanya di bagian comment, Insya Allah saya akan bantu menjawab, karena Kampung Inggris akan membantu kita semua yang mau belajar Bahasa Inggris, termasuk saya, soalnya saya kan lagi di Kampung Inggris pas nulis posting ini, hehe.
Korupsi bukanlah sesuatu yang manifes, ia laten atau tidak terlihat. Sesuatu yang tidak terlihat sering kita anggap sebagai sesuatu yang mengerikan. Korupsi memang mengerikan, dampaknya dapat membuat negara besar seperti Indonesia ataupun negara adikuasa seperti Amerika Serikat misalnya, hancur dari dalam jika korupsi mewabah.
Ada korelasi antara kemampuan dan kebutuhan. Ketika kita mampu tapi tidak butuh maka sesuatu yang kita miliki tersebut menjadi sia-sia karena tidak diperlukan. Namun jika kita perlu namun tidak mampu, akan menjadi celaka karena sesuatu yang dipaksakan selalu berakhir buruk.
Maksud dari ungkapan di atas adalah menjelaskan bahwa saat ini kondisi masyarakat kita adalah didominasi oleh kebutuhan yang tidak terbatas namun tidak diimbangi oleh kemampuan. Cara untuk mampu dilakukan dengan ilegal atau dipaksakan demi mendapatkan kebutuhan tersebut.
Namun tidak itu saja, hal tersebut didasari oleh fakta carut-marutnya negara ini alias kita miskin secara materi. Kondisi ini diperparah lagi dengan praktik memperkaya diri sendiri dengan cara korupsi. Korupsi merupakan salah satu kejahatan terorganisir[1] yang menjelaskan bahwa kejahatan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai legitimasi di mata rakyat. Mereka yang duduk mewakili rakyat dalam pemerintahan minimal saat ini merupakan aktor dominan dalam praktik korupsi.
Tanpa bermaksud menyudutkan para wakil rakyat di negeri ini, namun korupsi juga sangat mungkin dan telah kita lihat bahwa para kalangan profesional seperti akuntan, ahli hukum, penasehat keuangan, bankir, ahli kimia, hakim, pejabat daerah, anggota militer, eksekutif media, dan juga pengusaha.[2]
Menurut Transparency International,[3] korupsi dapat mempengaruhi 4 sektor, yaitu: politik, ekonomi, sosial dan lingkungan. Jika 4 sektor tersebut labil karena korupsi, maka sangat mungkin jika suatu negara kolaps. Supremasi hukum tidak bisa ditegakan jika sistem politik negara rapuh karena pejabat korup. Secara ekonomi korupsi menyebabkan penipisan kekayaan negara dan menurunnya tingkat kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya. Dampak di wilayah sosial adalah meningkatnya tingkat frustasi dan runtuhnya kepercayaan rakyat pada pemerintah. Rakyat akhirnya tidak lagi merasa dilindungi dan merasa bahwa negara melalaikan mereka dan rakyat bisa saja beremigrasi yang mengakibatkan negara tanpa rakyat atau bubarnya negara. Lingkungan juga turut hancur akibat eksploitasi besar-besaran dari proyek-proyek yang mendapatkan pendanaan publik namun masuk ke dalam kas pribadi.
Upaya Preventif
Memberantas korupsi tidaklah mudah. Korupsi tidak terlihat sehingga pelakunya akan sulit ditangkap. Namun tetap ada upaya untuk menyelamatkan negara ini dari bahaya laten tersebut. Masyarakat harus dibuat sadar tentang korupsi, bentuk korupsi, dan bahaya korupsi. Kesadaran masyarakat sangat penting ketimbang penangkapan tersangka korup dan memakan waktu berbulan-bulan untuk memproses di pengadilan, melakukan penyelidikan dan penyidikan. Hal ini tidak akan menghapus budaya korupsi di negara ini. Tindakan pencegahan melalui sosialisasi kepada masyarakat sebenarnya lebih efektif ketimbang harus memproses secara hukum yang menyita waktu dan biaya.
Sosialisasi ini merupakan pemahaman masyarakat terhadap hukum, dan ketika hukum ini dilanggar maka harus ada sanksi tegas. Jadi ketika upaya preventif sudah dilakukan dan tidak berhasil maka upaya represif adalah langkah selanjutnya yang diharapkan dapat memberikan efek jera pada pelaku. Upaya preventif dapat dilakukan dengan beberapa pertimbangan[4] berikut:
Apabila telah terjadi, korupsi mengakibatkan kerugian keuangan yang cukup besar;
Hasil recovery atas uang negara yang dikorupsi sangat kecil;
Kasus korupsi, merusak reputasi baik institusi maupun individu;
Proses litigasi menyita waktu dan biaya yang cukup banyak baik bagi aparat penegak hukum maupun calon tersangka;
Semakin lama kejadian korupsi tidak terungkap, semakin memberi peluang pelaku korupsi untuk menutupi tindakannya dengan kecurangan yang lain.
Sebenarnya masyarakatlah yang harus lebih berperan dalam upaya pemberantasan korupsi, karena bagaimanapun jika ada salah satu pejabat pemerintah yang tertangkap karena korupsi, ia adalah rakyat juga, yang sebenarnya lingkunganlah yang membentuk dia. Jika dalam ranah masyarakat sudah tercipta iklim korupsi, tidak mustahil di tingkat elit dapat terjadi korupsi.
Bila berkesempatan menang lomba menulis Anti-Korupsi, rekomendasi upaya pemberantasan korupsi di atas dapat disosialisasikan melalui program-program yang efektif dan efisien, sehingga Indonesia tidak lagi terpuruk karena permasalahan korupsi.