Archive for the ‘Kategori 2’ Category
July 16th, 2009
Adaptasi biasa dilakukan oleh mahluk hidup untuk bertahan di lingkungan barunya. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan bukanlah hal yang mudah, bisa butuh waktu yang lama untuk bisa terbiasa dengan hal-hal baru. Hukum alam mengatakan siapa yang kuat, dia yang menang adalah hukum yang liar sebenarnya. Namun apapun untuk tujuan, harus bisa dilakukan.
Melihat perkembangan sekarang-dan kebetulan teringat lagunya Saykoji yang judulnya Online-informasi merupakan hal mutlak yang harus kita dapatkan dalam proses adaptasi. Untuk bisa tinggal di Indonesia, warga negara asing harus paham dengan hukum positif dan hukum tak tertulis di negeri kita. Dengan menguasai beragam informasi, dalam hukum alam kita akan berada di posisi yang kuat.
Nah, bagaimana kalau hukum alam harus dirasakan oleh media cetak? Internet datang dan merambah seluruh lapisan masyarakat secara cepat. Orang terbiasa pencet ini baca itu bukan lagi membuka helai-demi helai kertas media cetak. Porsi iklan kian sedikit di koran, majalah, tabloid, dan sebagainya, dan ternyata muncul di portal-portal berita. Animo masyarakat untuk santai semakin terpenuhi karena adanya internet, akhirnya media cetak harus bangkrut dan mengaku kalah.
Berhenti terlalu serius, saya berlangganan koran Kompas seharga 50 ribu sebulan-harga spesial untuk mahasiswa tentunya. Tapi kuliah saya di semester akhir ini agak padat, pergi pagi pulang pagi sehingga aktivitas saya banyak di luar rumah. Waktu untuk membaca buku berkurang drastis, apalagi koran. Nah, jadi ini lah yang saya maksudkan. Ketika koran tidak lagi saya sentuh, dan saya termasuk orang lain di dunia ini yang punya banyak kegiatan di luar rumah, saya menjadi lari ke internet, membaca beragam berita di varian portal berita.

Kompas isi hari ini

Portal Kompas

e-Paper, benar-benar tampilan cetak
Sebagai contoh harian Kompas, media ini punya media cetak yang selalu datang ke rumah saya tiap jam setengah lima pagi. Media ini juga buka cabang di kompas.com; cetak.kompas.com; dan juga epaper.kompas.com. Akankah media besar seperti kompas juga harus menjadi kuat dengan cara pindah haluan ke internet? Siapa tahu ya, tapi tidak hanya kompas saja, banyak media lain yang bisa dicari di Google seperti Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Tempo, dan lain sebagainya. Jadi pertanyaan besarnya adalah, apakah media cetak akan tetap menjadi kertas atau berubah menjadi digital?

June 22nd, 2009
Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-482, Batavia Art Festival 2009 ikut memeriahkan di antara rangkaian acara di Jakarta pada hari Minggu kemarin pada tanggal 21 Juni. Bertempat di taman Museum Fatahillah, acara yang di mulai dari jam 9 pagi ini ramai dikunjungi pengunjung. Saya yang berniat datang pada jam pembukaan malah datang jam 12. Bertempat di lapangan terbuka, festival ini disengat oleh teriknya matahari, namun animo pengunjung tetap tidak berkurang tuh, apalagi saya yang bawa kamera kantong. Yup, tujuan saya ke Batavia Art Festival adalah untuk foto-foto. Saya dengan 3 teman saya sengaja datang bermodalkan kamera untuk mencari gambar bagus. Tapi hasil sebagian besar jepretan saya ada di kamera pro teman saya. Tapi tenang, sebagian lagi masih ada di kamera kantong saya.

Festival ini diadakan oleh Museum Sejarah Jakarta. Maksud dan tujuan dari acara ini dapat saya mengerti dari peserta festival ini sendiri, yaitu beberapa komunitas yang ada di Jakarta dan museum-museum sejarah. Diharapkan masyarakat dapat mengenal berbagai komunitas dan juga belajar tentang sejarah Jakarta. Contoh, dari Museum Bank Mandiri, kita bisa belajar tentang uang-uang kuno, gerakan menabung, alat hitung uang tipe dulu, dan lain sebagainya. Selain itu, diharapkan Kota Tua yang merupakan aset sejarah mendapatkan perhatian kembali melalui acara ini, dan juga sekaligus promosi untuk dapat menarik wisatawan.
Tenda makanan juga ikut meramaikan festival ini, berbagai macam jajanan dihidangkan sebagai pemanis festival ini. Saya terpaksa beli minuman dingin, panasnya ga kira-kira di lapangan terbuka itu. Yah, tanpa panjang lebar, di bawah ini saya sajikan gambaran langsung dari Batavia Art Festival 2009.

Sejarah dan Festival

Ojek Sepeda

Tentang Monumen Nasional

Kamera

Museum Wayang

Komunitas Djadoel

Musisi Muda

Ayo Menabung

Membatik
Perhatian!
Dilarang keras ngambil foto dari sini tanpa izin!

May 24th, 2009
“Di dadaku kubawa rakyat Sumeria dan Akkadia; mereka berkembang di bawah perlindunganku; aku selalu memerintah mereka dalam kedamaian; aku menaungi mereka dengan kebijaksanaanku. Agar yang kuat tidak menindas yang lemah; agar para yatim piatu dan para janda mendapatkan keadilan; di Babilonia, kota di mana Anum dan Elil menengadahkan kepalanya; di Esagila, kuil yang dasarnya kokoh kuat seperti langit dan bumi; aku menulis kata-kataku yang berharga ini pada monumenku; dan di hadapan patungku, sebagai raja keadilan, aku menetapkannya untuk mengatur hukum di negeri ini; untuk menentukan peraturan bagi negeri ini; untuk memberi keadilan bagi yang tertindas.”
Hammurabi
Adalah Hammurabi yang membuat 282 pasal dalam Hammurabi Codex sebagai hukum di dinastinya, dinasti yang hampir sama besar dengan Kerajaan Mesir Kuno, dinasti yang telah menaklukkan Akkadia, Elam, Larsa, Mari dan Summeria, yaitu dinasti Babilonia. Dari tulisan di atas, kita dapat melihat ada sebutan raja keadilan. Disebutkan bahwa Hammurabi menjadi terkenal karena Codex tersebut. Namun bila melihat relief Hammurabi (bisa ditemukan di Museum Louvre, Paris, Perancis), akan terlihat gambar seperti dibawah ini.

Gambar di atas menceritakan bahwa Hammurabi sedang menerima hukum dari Dewa Shamash yang merupakan simbol dari matahari dan juga penjamin keadilan. Walaupun Hammurabi seorang raja, ia tetap manusia biasa. Ia tidak membuat keadilan karena dirinya, ia mendapatkan keadilan dari Dewa. Dewa adalah Tuhan, dan Tuhanlah yang paling adil terhadap manusia. Manusia tidak akan pernah bisa adil, bahkan untuk seorang raja sekalipun.
