June 22nd, 2009
Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-482, Batavia Art Festival 2009 ikut memeriahkan di antara rangkaian acara di Jakarta pada hari Minggu kemarin pada tanggal 21 Juni. Bertempat di taman Museum Fatahillah, acara yang di mulai dari jam 9 pagi ini ramai dikunjungi pengunjung. Saya yang berniat datang pada jam pembukaan malah datang jam 12. Bertempat di lapangan terbuka, festival ini disengat oleh teriknya matahari, namun animo pengunjung tetap tidak berkurang tuh, apalagi saya yang bawa kamera kantong. Yup, tujuan saya ke Batavia Art Festival adalah untuk foto-foto. Saya dengan 3 teman saya sengaja datang bermodalkan kamera untuk mencari gambar bagus. Tapi hasil sebagian besar jepretan saya ada di kamera pro teman saya. Tapi tenang, sebagian lagi masih ada di kamera kantong saya.

Festival ini diadakan oleh Museum Sejarah Jakarta. Maksud dan tujuan dari acara ini dapat saya mengerti dari peserta festival ini sendiri, yaitu beberapa komunitas yang ada di Jakarta dan museum-museum sejarah. Diharapkan masyarakat dapat mengenal berbagai komunitas dan juga belajar tentang sejarah Jakarta. Contoh, dari Museum Bank Mandiri, kita bisa belajar tentang uang-uang kuno, gerakan menabung, alat hitung uang tipe dulu, dan lain sebagainya. Selain itu, diharapkan Kota Tua yang merupakan aset sejarah mendapatkan perhatian kembali melalui acara ini, dan juga sekaligus promosi untuk dapat menarik wisatawan.
Tenda makanan juga ikut meramaikan festival ini, berbagai macam jajanan dihidangkan sebagai pemanis festival ini. Saya terpaksa beli minuman dingin, panasnya ga kira-kira di lapangan terbuka itu. Yah, tanpa panjang lebar, di bawah ini saya sajikan gambaran langsung dari Batavia Art Festival 2009.

Sejarah dan Festival

Ojek Sepeda

Tentang Monumen Nasional

Kamera

Museum Wayang

Komunitas Djadoel

Musisi Muda

Ayo Menabung

Membatik
Perhatian!
Dilarang keras ngambil foto dari sini tanpa izin!

May 16th, 2009
Ibu saya pernah bilang bahwa siapapun yang pernah tinggal di Jakarta, tidak akan mau pindah ke luar Jakarta. Anggapan ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang yang pernah tinggal di Jakarta. Tapi akhirnya saya pun merasakannya sendiri meskipun saya hanya menjadi mahasiswa. Saya sampai heran, apa gerangan yang membuat ibu kota negara Indonesia ini bisa membuat penduduknya betah untuk tetap tinggal?

Jakarta, menurut saya adalah sebuah kota yang sangat besar. Dengan luas wilayah sebesar 661,52 km², waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya bukan lagi dengan hitungan menit melainkan dengan perkiraan jam. Kota ini adalah simbol dari kemajemukan Indonesia, ketika kita bisa menemukan masyarakat heterogen yang sangat individualis. Dipikir-pikir akankah kondisi demikian (plural) menjadi pondasi yang kuat terhadap kota ini? Dikarenakan manusia yang telah melanggar ketentuan alamiah yakni manusia sebagai mahluk sosial, manusia Jakarta menurut saya tidak lagi peduli satu sama lainnya.
Kota yang besar ini akhirnya mampu diisi dengan segala macam-macamnya entah apapun itu juga. Layaknya toko serba ada (toserba), Jakarta diisi apa saja yang penting ada. Mau makan? Jakarta punya restoran sampai jajanan PKL yang kerjaannya main kucing-kucingan sama Pol PP. Mau nonton? Jakarta punya bioskop dengan varian harga atau bila mau yang lebih murah lagi, bisa beli film format DVD bajakan. Mau pintar? Silahkan ke sekolah-sekolah gratis namun buku tidak gratis, dan kalau bisa ke jenjang yang lebih tinggi silahkan ke universitas-universitas (yang katanya) unggulan. Pemerintahan tersedia dari tingkat RT sampai tingkat Istana Negara. Budaya Jakarta pun telah tercampur dengan segala macam budaya baik domestik Indonesia maupun luar negeri. Kaum eksektif muda menjadi wajah baru di kota ini, melihatnya dengan mobil-mobil baru (pasti kredit), pakaian mahal, dan gaya hidupnya yang hedonis menjadikan kelas tersendiri dalam struktur masyarakat Jakarta.
‘Katanya’ Jakarta juga mampu membuat bahagia duniawi, sehingga orang berbondong-bondong datang ke Jakarta, berharap yang awalnya hanya punya celengan kodok bisa berubah menjadi buku tabungan bank. ‘Katanya’ ini lah yang membuat saya justru sebenarnya kesal, tapi merasa ada bagusnya juga dari ‘katanya’ ini. Yang bilang katanya Jakarta mampu merubah hidup kita pastilah orang yang telah berhasil, dan sebenarnya tidak hanya di Jakarta saja, di semua kota atau bisa saja di desa-desa ataupun kampung kita bisa berhasil. Namun masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat instan, punya niat saja boro-boro, usaha aja ngga pernah. Inilah akhirnya membuat Jakarta unik dari ‘katanya’ ini, begitu banyak cerita yang terjadi dikarenakan masyarkatnya tumpah ruah di Jakarta mencari kehidupan, ditambah lagi semua hal-hal di atas dimasukkan di kota ini.
Bila Jakarta mampu membuat testimoni, saya yakin ia akan mengeluh dengan konsekuensi yang harus dijalaninya. Fungsi yang diembannya sebagai pusat pemerintahan dan lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, menimbulkan konsekuensi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan jasa, pusat kegiatan sosial dan budaya dengan berbagai sarana terbaik di Indonesia dalam bidang pendidikan, budaya, kesehatan, dan olahraga. Maka dari itu, Jakarta mempunyai gelar Daerah Khusus Ibukota atau DKI karena keistimewaan tersebut.
Akhirnya saya pun mengerti apa yang dimaksud oleh ibu saya. Dengan apapun yang ada di Jakarta ini, telah mampu menjadi magnet bagi masyarakatnya sendiri. Jakarta memang dibuat khusus untuk melayani segalanya. Kriminalitas, kemacetan, kesenjangan sosial, banjir, dan lain-lainnya telah dianggap unsur-unsur yang secara tidak langsung wajib hadir dalam rutinitas kita di Jakarta ini. Di umur 482 tahun nanti di bulan Juni, Jakarta selalu diharapkan menjadi kota yang selalu menawarkan kesempatan untuk bahagia. Saya sendiri pun pernah merasakan bahagia di Jakarta ini, tapi tidak akan seru kalau belum kena pahitnya. Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda kerasan dengan lika-liku Jakarta ini?

October 7th, 2008
Sesudah lebaran adakah yang puasa Syawal? Ada dong, enyak saya tuh. Hahahaha, saya ngga ah, sedikit malas. Tapi entah kenapa, setelah lewat bulan puasa kemarin, saya dilanda kelaparan dini di pagi hari? Apakah ini yang namanya pembalasan? Wakakakakak, kayanya saya selalu lapar. Tebakan saya, mungkin saya cacingan dan harus minum Baygon mix Milanta atau saya terlalu sedikit makannya dan harus makan nasi sebakul?!
Sudah lupakan saja masalah lapar ini. Akhirnya kita sudah bermaaf-maafan di hari raya kemarin. Hilang sudah dosa kita (semoga). Namun tampaknya ada lagi yang sudah bikin orang kesal. Sudah ada yang bikin Pemprov DKI Jakarta kesal. Siapa ya yang berani bikin orang kesal setelah kemarin saja kita bermaaf-maafan? Ternyata para pendatang ilegal.
(bagus nih tulisannya, lanjut…)