Dia Bernama Politik
Kali ini saya tidak akan menulis tentang apa itu politik, tentu saja karena saya bukan pakar ataupun pengamat politik. Saya seperti kebanyakan masyarakat lainnya, yaitu korban dari politik. Saya adalah korban dari otoritas pemerintah, saya adalah saksi bagi Indonesia yang sedang memakai cara Demokrasi, saya adalah partisipan sesuai konstitusi yang dibuat para legislator, saya adalah teman dan musuh dari dia yang bernama Politik.
11 tahun sejak jatuhnya rezim Orde Baru, dan 10 tahun sejak pemilu pertama yang diakui dengan cara “demokratis”. Pemilu kali ini (2009) katanya adalah bentuk kebebasan, rakyat bebas memilih (begitu katanya). Pemilu kali ini tidak tahu diri, sebagai bentuk kebebesan, 44 partai masuk ke kertas suara. Kertas suaranya pun sangat besar, seperti atlas. Sistem bebas ini akhirnya menjadikan rakyat kebablasan, kebablasan bingung karena tidak tahu mana yang akan dipilih dan juga kesulitan membuka dan melipat kembali kertas suara. Bukan seperti keluh kesah, melainkan solusi mulut ke mulut saat ada di TPS kemarin lalu, “ah, ga ada yang kenal, mending pilih partainya saja. Pilih partai ini saja, soalnya partainya si anu..”




